Pendiri ESQ sebut keyakinan kunci transformasi ekonomi syariah

Pendiri ESQ sebut keyakinan kunci transformasi ekonomi syariah

Posted on



Kalau kita lihat dengan gunung es, ekonomi syariah itu hanya puncaknya saja yang paling bawah itu beliefs (kepercayaan) dan values (nilai)

Jakarta (ANTARA) – Pendiri ESQ Ary Ginanjar Agustian mengatakan keyakinan menjadi kunci dasar transformasi kultur ekonomi syariah.

“Kalau kita lihat dengan gunung es, ekonomi syariah itu hanya puncaknya saja yang paling bawah itu beliefs (kepercayaan) dan values (nilai),” katanya dalam acara Hipmi Syariah Convention 2022 yang disaksikan digital di Jakarta, Selasa.

Ary menjelaskan usaha untuk membangun ekonomi syariah yang merupakan IQ (Clever Quotient) tidak cukup hanya dengan membangun industri syariah, tapi 90 persen faktor penggerak transformasi berasal dari beliefs yang merupakan SQ (Non secular Quotient) dan values yang merupakan EQ (Emotional Quotient).

“Sehingga pada saat eksekusi ke depan, dalam period 4.0 kita tidak tahu standar syariah seperti apa di 2030. Karena itu psychological non secular menjadi solusi yang harus kita sampaikan dan tekankan,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa faktor management memegang kontribusi terbesar untuk mencapai transformasi ekonomi yakni 40 persen. Management yang berasal dari tokoh-tokoh yang menjadi position mannequin, change leaders, dan coach.

Kemudian disusul dengan system seperti regulasi dan teknologi dengan kontribusi 35 persen, lalu values system seperti internalisasi, eksternalisasi, dan kebiasaan atau karakter dengan kontribusi 25 persen.

Sistem dan teknologi memang harus kita buat, tapi kita harus menginternalisasikan perception system dan values system,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa nilai aset ekonomi syariah Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Islam lainnya. Aset Indonesia baru mencapai 3 miliar dolar AS, tertinggal dari Malaysia dengan nilai aset 10 miliar dolar AS, Iran 14 miliar dolar AS dan Arab Saudi 17 miliar dolar AS.

Peluang untuk pengembangan ekonomi syariah di Indonesia masih sangat besar dikarenakan baru 6,7 persen dari potensi yang ada yang baru digunakan. Selain itu, dari segi Industri Halal, Indonesia baru menjadi konsumen dan belum menjadi produsen.

Baca juga: OJK targetkan terbentuk 100 financial institution wakaf mikro tahun ini

Baca juga: BI: Konsumsi produk halal RI bakal tumbuh mencapai 281,6 miliar dolar

Baca juga: Ma’ruf Amin: Keuangan syariah dioptimalkan bangkitkan ekonomi nasional

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2022



Supply hyperlink

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *