Ketahui lima fakta limbah fesyen di balik tren produksi massal & cepat

Ketahui lima fakta limbah fesyen di balik tren produksi massal & cepat

Posted on



mengurangi belanja produk fesyen, merawat pakaian dengan baik

Jakarta (ANTARA) – Program Director for Sustainable Governance Strategic Kemitraan Dewi Rizki dan Runner Up Pertama Putri Indonesia Bengkulu 2022 Dinda Ayudita membagikan sejumlah fakta menarik mengenai limbah fesyen di balik produksi dan konsumsi industri quick vogue.

Merujuk pada UN Convention of Commerce and Improvement (UNCTD) 2019, fesyen disebut sebagai industri paling berpolusi kedua di dunia, setelah industri perminyakan. Sepuluh persen dari emisi karbon yang memengaruhi krisis iklim dihasilkan dari industri fesyen.

Berikut lima fakta yang perlu digarisbawahi dan diketahui mengenai limbah fesyen, terutama bagi pengguna yang ingin menerapkan “eating regimen” baju dan produk fesyen lain, dikutip melalui keterangan resmi pada Sabtu.

Quick vogue punya andil besar

“Karena harganya yang murah dan modelnya sedang tren, banyak anak muda yang tertarik untuk membeli pakaian dari merek-merek quick vogue tersebut,” ujar Dewi.

Dahulu rata-rata merek merilis dua koleksi, yaitu koleksi musim panas dan musim dingin. Namun, sekarang frekuensinya bisa jauh lebih tinggi. Ada merek international yang merilis hingga belasan koleksi per tahun. Bahkan, mengeluarkan hingga lebih dari 40 koleksi.

Memahami ancaman di balik quick vogue, Dinda sendiri selalu memilih mannequin dan warna pakaian yang eternal, misalnya blazer warna hitam yang bisa dipadankan dengan dalaman dan aksesori warna apa pun.

Baca juga: Mengenal fesyen sirkular, siklus yang mengubah dinamika dunia mode

Baca juga: “Daur”, koleksi sisa potongan bahan tenun dengan gaya artistik

Berbagai rupa limbah fesyen

Dinda bercerita dirinya pernah melihat sampah yang menggunung, rupanya sampah tersebut terdiri dari berbagai pakaian. Sampah tersebut termasuk limbah fesyen yang berasal dari sisa kain dari produksi pakaian di pabrik berskala kecil dan besar, serta pakaian tak terpakai yang dibuang.

Sejumlah bahan pakaian tidak mudah terurai secara alami, seperti polyester dan nilon yang membutuhkan waktu terurai antara 20 hingga 200 tahun. Walau begitu, terdapat pula bahan alami seperti kain katun dan linen.

Selain itu, limbah fesyen juga termasuk limbah cairan. Industri fesyen, kata Dewi, menyumbang dua puluh persen limbah cairan di dunia. Pewarnaan tekstil menjadi polutan air terbesar kedua di dunia karena sisa air dari proses pewarnaan sering kali dibuang ke selokan dan sungai.

Berdampak pada krisis iklim

Dewi mengatakan emisi karbon yang sangat besar dari industri fesyen terjadi pada setiap tahap rantai pasokan fesyen dan siklus produk. Namun, 70 persen emisi karbon berasal dari kegiatan hulu, seperti produksi dan pemrosesan bahan mentah.

Tak hanya itu, krisis iklim juga termasuk terkait dengan air, bahan kimia, penggundulan hutan, limbah tekstil, serta mikroplastik yang tidak bisa terurai secara alami.

Perilaku konsumen ikut berperan

Dinda mengakui dahulu dirinya bisa belanja baju baru setiap hari, walau pada akhirnya hanya terpakai satu-dua kali saja dan tersimpan rapi di lemari tanpa pernah tersentuh lagi.

“Ketika itu saya mulai berpikir ulang tentang kebiasaan membeli baju. Sudah saatnya saya berubah complete. Sekarang saya jarang sekali beli baju. Belum tentu setiap satu-dua bulan saya beli baju,” kata Dinda.

Ia sendiri mengajukan diri untuk jadi duta kampanye Generasi Nol Emisi di media sosial. Kampanye ini digagas oleh The Partnership for Governance Reform atau yang biasa disebut Kemitraan.

Dinda turut berbagi tip agar tak perlu terus-menerus belanja produk fesyen, yaitu dengan memilih produk dasar dalam warna monokrom, seperti hitam dan cokelat, sehingga bisa dikenakan di berbagai acara.

Fundamental merchandise milik saya adalah denims, kaus ketat atau tank prime, dan sepatu putih. Kalau mati gaya, sepatu putih tidak pernah gagal jadi penolong,” kata Dinda.

Limbah fesyen bisa ditekan

Selain mengurangi belanja produk fesyen, hal yang paling sederhana untuk meminimalkan limbah fesyen yaitu mendonasikan pakaian lama yang masih layak pakai kepada mereka yang membutuhkan.

Jika sangat perlu belanja baju, Dewi menyarankan agar memastikan semua diproses secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, misalnya memakai bahan daur ulang dan dibuat dari bahan yang tahan lama.

“Mengurangi sampah fesyen adalah aksi sederhana yang bisa kita lakukan untuk memperlambat perubahan iklim. Jadi, mari menunjukkan rasa cinta pada bumi dengan mengurangi belanja produk fesyen, merawat pakaian dengan baik, dan memodifikasi pakaian lama,” kata Dewi.

Baca juga: Manzone ajak donasi pakaian bekas untuk didaur ulang

Baca juga: Re:Fashion, fesyen berkelanjutan dari limbah mobil

Baca juga: Limbah fesyen akan menjadi masalah bagi Jakarta

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2022



Supply hyperlink

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *